Posts Tagged ‘nasib’

Apakah Nasib Anda Sudah Ditentukan?

17 Desember 2009

Pada suatu pagi, seorang pengusaha bergegas ke bandara, tetapi ketinggalan pesawat. Tidak lama kemudian, ia mendengar berita–pesawat itu jatuh. Semua penumpang tewas.

Dari waktu ke waktu, kita mendengar laporan tentang orang yang lolos dari kecelakaan fatal. Kata orang, “Belum waktunya ia mati.” Tetapi, kalau ada yang tewas, orang mengatakan, “Ya, memang sudah waktunya.” Ada yang percaya bahwa sejak lahir, nasib seseorang sudah digariskan oleh suatu hukum keberuntungan. Ada lagi yang percaya bahwa orang yang berbuat jahat dalam kehidupan sebelumnya dihukum dalam kehidupan sekarang, dan orang yang berbuat baik sekarang akan diupahi dalam kehidupan berikutnya. Menurut orang-orang tersebut yang percaya kepada nasib, dengan berbuat baik dan dengan menjalani upacara keagamaan tertentu mereka dapat mengubah nasib mereka. Apakah pandangan-pandangan itu masuk akal?

Apakah memang masuk akal?
Mari kita pikirkan pandangan yang pertama. Jika nasib manusia ditentukan oleh suatu hukum bahwa orang akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya, siapa yang menetapkan dan menegakkan hukum itu? Katakanlah Anda pergi ke luar negeri dan mengamati ada sejumlah peraturan lalu lintas yang terperinci dengan sistem hak dan sanksi, atau pencabutan hak. Apakah masuk akal untuk berpikir bahwa peraturan itu ada dengan sendirinya dan dijalankan tanpa ada yang menegakkannya?

Sekarang, mari kita pikirkan pandangan yang kedua. Apakah penderitaan dalam kehidupan sekarang adalah akibat perbuatah jahat dalam kehidupan sebelumnya? Jika seseorang berbuat dosa dalam kehidupan yang konon adalah kehidupan sebelumnya tetapi sekarang tidak tahu apa-apa tentang dosa itu, bagaimana ia dapat memperbaiki diri? Jika ia tidak tahu penyebab penderitaannya, bagaimana penderitaan itu dapat membantunya berubah menjadi orang yang lebih baik? Apakah hal itu benar-benar adil?

Sebagai gambaran: Ada seorang anak yang suka berbohong. Apa jadinya jika ayahnya menyuruh dia memperbaiki tingkah lakunya, tetapi tidak memberi tahu apa kesalahannya? Boleh jadi, anak itu akan lebih rajin belajar di sekolah atau tidak nakal lagi. Namun, karena tidak diberi tahu bahwa berbohong itu salah, ia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa ia tidak boleh berbohong lagi. Apakah cara itu bermanfaat bagi sang anak atau apakah perlakuan seperti itu adil? Mengenai penderitaan akibat berbuat dosa dalam kehidupan sebelumnya, seorang wanita berkata, “Tidak masuk akal bahwa saya harus menderita seumur hidup padahal saya sama sekali tidak tahu apa alasannya. Saya tida punya pilihan, itu sudah nasib saya.”

Percaya kepada nasib bisa menimbulkan akibat buruk lainnya. Sewaktu menghadapi kesulitan atau perlakuan tidak adil, ada yang mungkin berpikir, ‘Memang sudah nasib saya, jadi saya pasrah saja.’ Yang lain percaya bahwa dengan menjalani upacara keagamaan tertentu yang menghabiskan banyak biaya atau dengan memindah-mindahkan barang di dalam rumah, mereka dapat mengubah keberuntungan mereka. Akibatnya, orang harus mengeluarkan banyak uang dan bahkan menjadi korban orang-orang yang tak bermora.

Alasan sebenarnya kita menderita
Apa yang Alkitab katakan tentang nasib dan tentang dosa dalam “kehidupan sebelumnya”? Alkitab dengan tandas memberi tahu kita, “Yang hidup sadar bahwa mereka akan mati; tetapi yang mati, mereka sama sekali tidak sadar akan apa pun . . . Semua yang dijumpai tanganmu untuk dilakukan, lakukanlah dengan segenap kekuatanmu, sebab tidak ada pekerjaan atau rancangan atau pengetahuan atau hikmat di Syeol [kuburan], tempat ke mana engkau akan pergi.” (Pengkhotbah 9:5, 10) Dengan kata lain, apabila seseorang mati, ia tidak dapat berpikir atau bekerja lagi. Ia tidak mempunyai bagian halus yang terus hidup setelah tubuh mati dan karena itu, ia tidak dapat dilahirkan kembali sebagai orang lain.

Kalau begitu, mengapa ada yang tertimpa musibah sedangkan yang lain tidak? Pertama-tama, Pengkhotbah 9:11 memberi tahu kita, “Waktu dan kejadian yang tidak terduga menimpa mereka semua.” Sering sekali, orang mendapat kecelakaan hanya karena kebetulan berada di tempat kejadian. Mari kita kembali ke contoh yang disebutkan di paragraf pertama. Setiap hari, karena berbagai alasan, orang ketinggalan pesawat terbang, feri, atau bus. Kalau tidak ada kecelakaan fatal, orang segera melupakan hal yang sepele itu. Tetapi, apabila ada bencana, orang yang selamat mungkin berpikir bahwa belum waktunya ia mati.

Musibah juga dapat terjadi akibat ulah manusia, dan itulah alasan kedua mengapa orang menderita. Pengkhotbah 8:9 mengatakan, “Manusia menguasai manusia sehingga ia celaka.” Orang yang berkuasa mungkin menyalahgunakan wewenang mereka, dan akibatnya, orang lain menderita. Selain itu, cara hidup seseorang bisa berpengaruh atas apa yang terjadi. Misalnya, kebiasaan buruk dapat merusak kesehatan, dan sifat buruk bisa membuat hubungan tegang. Galatia 6:7 mengatakan, “Apa pun yang ditabur orang, ini juga yang akan dituainya.”

Alasan ketiga mengapa manusia menderita berkaitan dengan fakta bahwa kita hidup pada “hari-hari terakhir”. Sekitar dua ribu tahun yang lalu, Yesus bernubuat tentang penutup sistem ini, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan ada kekurangan makanan dan gempa bumi di berbagai tempat . . . Oleh karena bertambahnya pelanggaran hukum, kasih kebanyakan orang akan mendingin.” (2 Timotius 3:1-5; Matius 24:3, 7, 12) Seraya kondisi dunia memburuk dan kekerasan serta bencana alam bertambah banyak, masuk akal bahwa jauh lebih besar kemungkinannya kita tertimpa musibah.

Tetapi, masa depan manusia sama sekali tidak suram! Setelah menggambarkan hari-hari terakhir, Yesus mengatakan, “Dia yang telah bertekun sampai akhir adalah orang yang akan diselamatkan. Dan kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.” (Matius 24:13, 14) Kerajaan yang disebutkan di sini adalah pemerintahan yang telah Allah dirikan di surga, dengan Yesus Kristus sebagai Raja yang terpilih. Kerajaan Allah akan segera menyingkirkan semua kejahatan di bumi, dengan demikian mengakhiri sistem sekarang. Kehidupan di bumi akan benar-benar berubah! “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.” (Penyingkapan [Wahyu] 21:4) Ya, ini benar-benar kabar baik!

Apa yang menentukan masa depan anda?
Apa yang harus kita lakukan agar dapat menerima berkat yang akan dihasilkan oleh Kerajaan Allah? Alkitab dengan jelas mengatakan, “Dunia ini sedang berlalu, demikian pula keinginannya, tetapi ia yang melakukan kehendak Allah akan tetap hidup untuk selamanya.” (1 Yohanes 2:17) Orang yang melakukan kehendak Allah mempunyai prospek untuk hidup selama-lamanya di bumi di bawah pemerintahan Kerajaan-Nya. Tentu, untuk melakukan kehendak Allah, pertama-tama Anda harus mengetahui kehendak-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Inilah berarti kehidupan abadi, bahwa mereka terus memperoleh pengetahuan mengenai dirimu, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai pribadi yang engkau utus, Yesus Kristus.” (Yohanes 17:3) Dengan mempelajari Alkitab, anda dapat mengetahui kehendak Allah yang benar, Yehuwa, dan juga ajaran Yesus Kristus. Inilah langkah awal yang sangat penting yang akan menghasilkan berkat berupa kehidupan abadi.

Masa depan Anda tidak ditentukan oleh nasib, tetapi bergantung pada pilihan yang Anda buat sekarang. Karena itu, melalui seorang penulis Alkitab, Allah mendesak, “Aku menjadikan langit dan bumi sebagai saksi sehubungan dengan kamu pada hari ini, bahwa aku menaruh kehidupan dan kematian di hadapan engkau, berkat dan laknat; dan pilihlah kehidupan agar engaku tetap hidup, engkau dan keturunanmu.” (Ulangan 30:19) Semoga Anda memilih untuk mempelajari Alkitab dan melakukan kehendak Allah agar Anda juga dapat memiliki prospek kehidupan dan kebahagiaan untuk selamanya!

Apakah Masa Depan Anda Ditakdirkan?

26 Agustus 2009

Banyak orang percaya bahwa kehidupan dan masa depan mereka ditakdirkan oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi. Menurut mereka, sejak dalam kandungan hingga mati, kita semua mengikuti apa yang sudah tersurat dalam pikiran Allah. ‘Bagaimanapun juga,’ kata mereka, ‘Allah mahakuasa dan serbatahu, atau mahatahu, jadi Ia pasti tahu setiap perincian tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan.’

Bagaimana menurut anda? Apakah Allah sudah menetapkan jalan hidup dan nasib akhir kita? Dengan kata lain, kebebasan memilih itu memang ada atau hanya ilusi? Apa yang Alkitab, Firman Allah, katakan?

Pengetahuan Sebelumnya–Total atau Selektif?
Alkitab jelas sekali menunjukkan bahwa Allah memiliki kemampuan untuk tahu sebelumnya. Menurut Yesaya 46:10, ‘Sejak awal Dia tahu kesudahannya.’ Dia bahkan menggunakan sekretaris manusia untuk menulis banyak nubuat. (2 Petrus 1:21) Selain itu, nubuat-nubuat tersebut selalu menjadi kenyataan karena Allah punya hikmat maupun kuasa untuk menggenapinya secara terperinci. Maka, Allah tidak hanya bisa tahu sebelumnya, tetapi kalau mau, Ia pun bisa menetapkan sebelumnya berbagai peristiwa. Namun, apakah Allah menetapkan sebelumnya nasib setiap orang atau bahkan jumlah orang yang akan memperoleh keselamatan? Menurut Alkitab, tidak!

Alkitab mengajarkan bahwa Allah selektif sewaktu menetapkan masa depan di muka. Misalnya, Allah menubuatkan bahwa “suatu kumpulan besar” orang adil-benar akan selamat dari pembinasaan orang fasik pada akhir sistem sekarang ini. (Penyingkapan [Wahyu] 7:9, 14) Namun, perhatikan bahwa Allah tidak memberi tahu jumlah spesifik orang dalam kumpulan besar itu. Alasannya? Ia tidak menakdirkan setiap orang. Allah seperti ayah yang pengasih dari suatu keluarga besar. Ia tahu bahwa setidaknya beberapa anak-Nya akan membalas kasih-Nya, tetapi Dia tidak menyuratkan jumlahnya.

Bandingkan kemampuan Allah untuk menetapkan sebelumnya dengan cara Ia menggunakan kuasa-Nya. Sebagai yang Mahakuasa, Allah memiliki kuasa mutlak. (Mazmur 91:1; Yesaya 40:26, 28) Tetapi, apakah Ia menggunakan kuasa-Nya secara tak terkendali? Tidak. Sebagai contoh, Ia tidak menindak Babilon, musuh Israel zaman dahulu, hingga waktunya tepat. “Aku terus mengendalikan diri,” kata Allah. (Yesaya 42:14) Prinsip yang sama berlaku sewaktu Ia menggunakan kemampuan-Nya untuk tahu sebelumnya dan tetapkan sebelumnya. Yehuwa mengendalikan diri agar dapat merespek kebebasan memilih yang Ia berikan kepada kita.

Kendali Allah atas kuasa-Nya tidak membatasi Dia atau menjadikan Dia tidak sempurna. Malah, hal itu mengagungkan kebesaran-Nya, dan membuat Dia dekat di hati kita, karena kedaulatan-Nya dilaksanakan tidak semata-mata dengan kemahatahuan dan kuasa, tetapi juga dengan kasih dan respek terhadap kebebasan memilih ciptaan-Nya yang cerdas.

Sebaliknya, jika Allah sudah menggariskan segalanya, termasuk semua kecelakaan mengenaskan dan perbuatan keji yang pernah terjadi, bukankah pantas bila kita menyalahkan Dia atas semua kesengsaraan dan penderitaan di dunia ini? Jadi, setelah dicermati baik-baik, ajaran takdir tidak menghormati Allah, tetapi membuat Dia tampak menyeramkan. Ajaran itu menggambarkan Dia kejam, tidak adil, dan tidak pengasih–sangat bertolak belakang dengan apa yang Alkitab katakan tentang Dia.–Ulangan 32:4.

Anda yang Memilih
Melalui hamba-Nya Musa, Allah berkata kepada bangsa Israel, “Aku menaruh kehidupan dan kematian di hadapan engkau,… dan pilihlah kehidupan… dengan mengasihi Yehuwa, Allahmu, dengan mendengarkan perkataannya dan dengan berpaut padanya; sebab dia berarti kehidupanmu dan panjang umurmu.” (Ulangan 30:19, 20) Kalau Allah sudah menakdirkan setiap orang Israel entah untuk mengasihi Dia dan memperoleh kehidupan atau untuk mengabaikan Dia dan menerima kematian, firman-Nya menjadi tak berarti dan palsu. Percayakah anda bahwa Allah, “pencinta keadilan” dan teladan terbaik kasih, akan bertindak sewenang-wenang seperti itu?–Mazmur 37:28; 1 Yohanes 4:8.

Imbauan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk memilih kehidupan justru lebih relevan bagi kita dewasa ini, karena penggenapan nubuat Alkitab menunjukkan bahwa kita sedang mendekat dengan cepat munuju akhir sistem sekarang ini. (Matius 24:3-9; 2 Timotius 3:1-5) Bagaimana kita memilih kehidupan? Pada dasarnya sama dengan yang dilakukan orang Israel zaman dahulu.

Bagaimana Anda Bisa “Memilih Kehidupan”?
Kita memilih kehidupan dengan “mengasihi Yehuwa”, dengan “mendengarkan perkataannya”, dan dengan “berpaut padanya”. Tentu saja, kita dapat melakukannya hanya jika kita mengenal Allah sebagai suatu pribadi dan memahami tuntutan-Nya terhadap kita. Dalam doa kepada Allah, Yesus Kristus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”–Yohanes 17:3, Terjemahan Baru. Ya, karunia rohani ini adalah bukti yang jelas bahwa Allah tidak menakdirkan masa depan kita, tetapi ingin agar kita membuat pilihan sendiri berdasarkan keterangan yang Ia sediakan.–Yesaya 48:17, 18.

Melalui Alkitab, Allah seolah-olah berkata kepada kita, ‘Inilah maksud-tujuanku bagi umat manusia dan bumi, dan inilah yang hendaknya kamu lakukan untuk memperoleh kehidupan abadi. Kini, terserah kamu untuk memutuskan apakah akan mendengarkan atau mengabaikan Aku.’ Ya, betapa sempurnanya Allah menyeimbangkan kuasa-Nya untuk menetapkan sebelumnya dengan respek-Nya terhadap kebebasan memilih kita! Akankah anda memilih kehidupan “dengan mendengarkan Allah dan berpaut kepadanya”?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.